PusatInformasiAswaja - akhir-akhir ini tepatnya di penghujung kepemimpinan kepala daerah lama, kita segera akan memasuki masa dimana para ahli dan si "rakus" mendeklarasikan diri sebagai calon pemimpin masyarakat banyak.
Di saat ini pula kita mendengar nama beberapa kandidat calon pemimpin yang sedikit asing dikalangan politikus yang sudah mulai ikut bergabung ke kancah politik, seperti ayah sop jeunib, Waled Seulimeum, Dll.
Mendengar nama tokoh tersebut maka telinga kita tak asing dengan pangkatnya yang lebih mulia dari hanya sekedar pemimpin, yaitu ulama, tak ayal bila kita bakal mendengar beberapa pendapat dari "pakar" yang sok intelek tapi cetek ilmu dan wawasannya, lantas, apa yang mereka utarakan?Berikut kutipan reporter kami yang sempat mewawancarai mereka :
"Menurut hemat saya, ulama itu tak pantas duduk di bangku politik, karena tugas mereka yaitu membimbing ummat di jalan Allah."
"Ulama yang sudah turun ke kancah politik, berarti ke-ulama-annya wajib diragukan"
"Tgk, tukang kejar setoran tuh"
Begitulah pendapat beberapa pakar dadakan di kalangan awam.
Tahukah Anda, bahwa pendapat demikian adalah pendapat para awam yang memegang pendapat para pejuang "Sepilis" (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme)
Dengan pendapat tolol demikian maka mereka ingin para ulama tidak naik dan tidak bisa mengutak-atik agama yang sudah dikotori oleh aliran sesat.
Beberapa ulama dan Tgk Dayah ketika menginjakkan kakinya di kancah politik, pasti mereka akan menjaga agama nya yang mulai di utak-atik oleh pihak yang tidak bertanggung jawab danmembimbing ummat kepada jalan yang di Rahmati Allah, serta menjadikan negeri atau kota tersebut menjadi baldatun thayyibah.
Amiin
Semoga ulama kita bisa terjun ke dunia politik dengan cara aman, lempang dan terhindar dari perbuatan kotor para bedebah yang mengotori citra politik yang mulanya baik.
(Sang_Laskar)
0 comments: